Iklan

Lauk Rokok dan Mimpi

image,

 

Aku terpaksa bangun pagi hari itu. tidur larut malam jadikan air mata tak gentar meluncur keluar. flu. bukan sedih atau haru. Jelas tak nyaman bila ada orang lihat aku.

medical check up adalah tahapan akhir dari serangkaian test yang aku ikuti untuk suatu bank negeri. Negeriku sendiri. Bukan negeri orang lain. wajib hukumnya untuk dapat label sehat sepertinya. atau paling tidak, tidak berpotensi sakit berat. aku akui itu penting. kuliah dua kali manajemen resiko bikin aku lancar untuk paham.

aku memang belum sampai di tahapan itu. masih dua langkah untuk kesana. pencegahan lebih baik dari mengobati kata orang. yasudah aku turuti untuk cek lebih dulu. siapa tau ada yang kurang sinergi di dalam tubuhku, bisa aku obati segera sebelum masa penghakiman itu datang.

jeda antar test gula darah aku gunakan untuk manjakan naga-naga penghuni lambung ku. bubur ayam khas semarang ku santap di depan lokasi. aku harus kenyang, atau mati. seolah itu tanda yang tanganku berikan lewat gemetarnya.

aku ingin sehat. aku ingin kuat. aku periksa tubuhku. aku makan tepat waktu. namun tidak semua seberuntung aku. asap melintas menggoda depan muka. bau khas harum tembakau terbakar tak kalah ingin tampil. darimana? dari bapak tua sebelah aku ternyata. kami menatap zat yang beda. Aku melihat dia, dia melihat mimpi. seolah tak cukup, dia tambah satu puntung lagi agar kenyang.

aku dan dia beda untuk saat ini. tapi siapa tahu nanti. satu yang sama, harusnya aku dan dia sama-sama sehat dan bahagia.